Polusi Udara dan Perubahan Iklim: Hubungan dan Dampaknya

 

POLUSI UDARA DAN PERUBAHAN IKLIM: HUBUNGAN DAN DAMPAKNYA

Dina Fitriana1), Syuraida Aulia Risma2), Talita Salma Nabilah3) , Vhini Anjanuari4)

1)       Universitas Jenderal Soedirman, dina.fitriana@mhs.unsoed.ac.id

2)       Universitas Jenderal Soedirman, syuraida.risma@mhs.unsoed.ac.id 

          3)       Universitas Jenderal Soedirman, talita.nabilah@mhs.unsoed.ac.id 

            4)       Universitas Jenderal Soedirman, vhini.anjanuari@mhs.unsoed.ac.id

 

 

Abstrak

Masalah utama yang terjadi di bumi adalah perubahan iklim dan polusi udara dengan kaitan yang sangat erat. Polusi udara dan perubahan iklim sampai saat ini masih menjadi suatu hal yang belum terselesaikan. Kajian ini menggunakan metode literature review atau tinjauan kepustakaan, dengan menggunakan desain penelitian historis untuk tujuan deskriptif. Perubahan iklim sebagai salah satu ancaman kesehatan terbesar di abad ke-21, dan polusi udara sebagai satu-satunya risiko kesehatan lingkungan terbesar. Penyebab utama polusi udara adalah sumber energi yang saat ini menggerakkan sistem transportasi, pembangkit listrik, industri, dan produksi pangan. Terdapat hubungan yang sangat jelas antara sumber polusi udara lokal dan emisi yang mendorong perubahan iklim. Dampak yang didapat dari polusi udara jumlahnya tidak sedikit, diantaranya yaitu mengganggu kesehatan makhluk hidup, kerusakan lingkungan ekosistem, dan hujan asam. Polusi udara secara signifikan berkontribusi terhadap perubahan iklim, menyebabkan perubahan cuaca jangka panjang dan emisi gas rumah kaca. Polusi udara berdampak bagi kesehatan manusia yaitu berkontribusi pada timbulnya perkembangan penyakit kronis seperti kardiovaskuler dan pernafasan penyakit.

 

Kata kunci: dampak, iklim polusi, udara

 

Abstract

The main problems occurring on earth are climate change and air pollution which are very closely related. Air pollution and climate change are still unresolved issues. This study uses a literature review method, using a historical research design for descriptive purposes. Climate change as one of the greatest health threats of the 21st century, and air pollution as the single greatest environmental health risk. The main causes of air pollution are energy sources that currently power transportation systems, power generation, industry, and food production. There is a clear link between local sources of air pollution and the emissions that drive climate change. The impacts of air pollution are not small, including disrupting the health of living creatures, environmental damage to ecosystems, and acid rain. Air pollution significantly contributes to climate change, causing long-term weather changes and greenhouse gas emissions. Air pollution has an impact on human health, namely contributing to the development of chronic diseases such as cardiovascular and respiratory diseases.

 

Key words: air, climate, impact, pollution

 

 

Pendahuluan

Dua masalah utama yang terjadi di bumi, perubahan iklim dan polusi udara, mempunyai kaitan yang sangat erat. Hal ini merupakan akibat dari faktor-faktor yang kompleks. Polusi udara dan perubahan iklim sampai saat ini masih menjadi suatu hal yang belum terselesaikan. Faktanya, laporan baru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa polusi udara menyebabkan 7 juta kematian dini setiap tahunnya di seluruh dunia. Laporan tersebut mengkaji tingkat polusi yang sebelumnya dianggap berbahaya dan kini mencakup polusi lain yang sebelumnya dianggap aman.

Polusi lingkungan dapat disebabkan oleh proses alamiah maupun proses buatan manusia. Polusi lingkungan terbagi menjadi beberapa macam yang terdiri dari polusi air, polusi tanah, polusi udara, dan polusi suara. Salah satu sumber polusi lingkungan yang berasal dari aktivitas manusia adalah berasal dari transportasi dan pabrik. Sektor transportasi dan industri menjadi penyebab paling utama dari kerusakan lingkungan yaitu polusi udara (Brauers & Oei, 2020). Melalui mobilitas transportasi dan aktivitas industri yang tidak terkendali mengakibatkan menyebarnya zat pencemar udara yang berlebihan pula (Moran et al., 2020).

Perubahan kualitas udara yang terjadi tentu akan mempengaruhi kondisi iklim secara umum. Jika zat pencemar udara telah melebihi ambang batas yang telah ditetapkan, maka dapat menyebabkan fenomena efek rumah kaca (greenhouse effect) berskala global. Akibat banyaknya kadar pencemar udara di udara, sinar matahari yang menyinari permukaan Bumi dapat terpantulkan kembali ke permukaan Bumi dan tidak mampu dipantulkan ke angkasa luar (Clayton & Manning, 2018). Akibatnya suhu permukaan Bumi menjadi meningkat. Jika suhu permukaan Bumi meningkat secara terus-menerus dapat menyebabkan dunia mengalami pemanasan global (global warming). Dari global warming inilah iklim dunia yang awalnya kondusif berubah menjadi ekstrim. Dampak dari perubahan iklim yang saat ini terjadi akibat global warming terdiri dari mencairnya es di kutub, kebakaran hutan yang semakin sering dan luas, sering terjadinya cuaca ekstrim seperti badai topan yang semakin kuat, dan maraknya anomali cuaca (Jorquera et al., 2019).

 

Metode

Kajian ini menggunakan metode literature review atau tinjauan kepustakaan, dengan menggunakan desain penelitian historis untuk tujuan deskriptif. Metode ini dilakukan dengan cara membaca berbagai jurnal dan literatur, kemudian mengikuti pola tulisan dari literatur yang dibaca. Sumber kajian berasal dari jurnal dan literatur yang berkaitan dengan permasalahan yang diangkat.


Hasil dan Pembahasan

Polusi udara dan perubahan iklim merupakan dua masalah lingkungan yang saling berkaitan, walaupun keduanya memiliki karakteristik dan dampak yang berbeda. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengidentifikasi perubahan iklim sebagai salah satu ancaman kesehatan terbesar di abad ke-21, dan polusi udara sebagai satu-satunya risiko kesehatan lingkungan terbesar (Lendrum & Ustun, 2019). Perubahan iklim, dan polusi udara menjadi salah satu ancaman paling serius terhadap kesehatan global.

Banyak pola pembangunan yang mengarah pada tingginya ketergantungan pada bahan bakar fosil, dan kebijakan serta pilihan teknologi yang mendorong perubahan iklim (seperti polusi transportasi dan pilihan energi) juga memperburuk polusi udara dan dampak lingkungan lainnya (Lendrum & Ustun, 2019). Pola yang paling jelas adalah polusi udara. Polusi udara baik di dalam maupun di luar ruangan menyebabkan sekitar 7 juta kematian setiap tahun dan berada di peringkat kedua setelah tembakau sebagai faktor risiko untuk penyakit tidak menular.

Penyebab utama polusi udara adalah sumber energi yang saat ini menggerakkan sistem transportasi, pembangkit listrik, industri, dan produksi pangan. Terdapat hubungan yang sangat jelas antara sumber polusi udara lokal dan emisi yang mendorong perubahan iklim. Perkiraan menunjukkan bahwa sekitar 25% polusi udara perkotaan yang berasal dari partikel halus (PM 2.5) disebabkan oleh lalu lintas, 15% oleh kegiatan industri termasuk pembangkit listrik, 20% oleh pembakaran bahan bakar domestik (dengan 22% sisanya berasal dari sumber manusia yang tidak disebutkan secara spesifik) asal dan 18% dari sumber alami) (Karagulian et al., 2015). Polusi udara dalam ruangan biasanya terjadi karena penggunaan bahan bakar padat untuk memasak dalam rumah tangga dengan pendapatan yang terbatas. Paparan tersebut menyebabkan hampir 4 juta kematian setiap tahunnya, dimana hampir 3 juta diantaranya disebabkan oleh penyakit tidak menular seperti kanker paru-paru, penyakit paru obstruktif kronik, penyakit jantung iskemik dan stroke (Lendrum & Ustun, 2019).

Polusi udara banyak berkontribusi pada perubahan iklim yang terjadi di lingkungan. Perubahan iklim merujuk pada perubahan jangka panjang dalam pola cuaca rata-rata di seluruh dunia, termasuk perubahan dalam suhu udara rata-rata, pola hujan, tingkat salju, dan faktor lainnya (Ajis, 2023). Salah satu dampak polusi udara yang paling signifikan terhadap perubahan iklim adalah emisi gas rumah kaca. Beberapa polutan udara, seperti karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan oksida nitrogen (NOx), adalah gas rumah kaca yang dapat menangkap panas di atmosfer bumi. Aktivitas manusia, seperti pembakaran bahan bakar fosil dan deforestasi, menghasilkan emisi gas-gas ini ke atmosfer, yang kemudian memicu pemanasan global dan perubahan iklim.

Selain gas rumah kaca, polusi udara juga mempunyai kandungan partikel debu dan aerosol yang dapat mempengaruhi iklim. Partikel-partikel tersebut mempengaruhi panas matahari yang mencapai permukaan bumi dengan menghambat radiasi matahari, sehingga dapat menyebabkan pendinginan lokal. Namun, efek jangka pendek yang ditimbulkan dapat lebih kompleks karena polusi tersebut dapat mengganggu siklus air dan awan yang pada akhirnya berdampak terhadap iklim.

Aktivitas manusia yang berperan dalam penyebaran partikel, misalnya dalam bentuk partikel-partikel debu dan asbes dari bahan bangunan, abu terbang dari proses peleburan baja dan asap dari proses pembakaran tidak sempurna, terutama dari batu arang (Ratnani, 2008). Sumber utama partikel adalah dari pembakaran bahan bakar diikuti oleh aktivitas industri. Partikel-partikel yang ada di atmosfer memiliki dampak terhadap jumlah dan jenis radiasi matahari yang mencapai permukaan bumi. Dampak ini timbul karena partikel tersebut menyebar dan menyerap sinar matahari. Kuantitas partikel polutan bervariasi tergantung pada musim atau kondisi iklim. Pada musim salju dan musim gugur, sistem pemanas di dalam rumah–rumah dan gedung meningkat sehingga dibutuhkan tenaga yang lebih tinggi yang mengakibatkan terbentuknya lebih banyak partikel (Ratnani, 2008).

Dampak yang didapat dari polusi udara jumlahnya tidak sedikit, diantaranya yaitu mengganggu kesehatan makhluk hidup, kerusakan lingkungan ekosistem, dan hujan asam (Abidin & Hasibuan, 2019). Polusi udara berdampak bagi kesehatan manusia yaitu berkontribusi pada timbulnya perkembangan penyakit kronis seperti kardiovaskuler dan pernafasan penyakit. Banyak penelitian menemukan kontribusi dari adanya paparan PM10 atau PM2.5 terhadap peningkatan angka kejadian penyakit tersebut (Sudaryanto et al., 2022). Lalu untuk efek jangka pendek dari polusi udara juga mempengaruhi terjadinya kematian mendadak pada bayi (Chen et al., 2021). Peningkatan polusi udara secara signifikan merusak status Kesehatan masyarakat setempat yang menyebabkan peningkatan angka kematian bayi dan angka harapan hidup yang lebih rendah.

Selanjutnya efek yang ditimbulkan pada lingkungan ekosistem adalah kerusakan dimana lingkungan ekosistem tempat tinggal berbagai macam makhluk hidup seperti akibat kebakaran hutan merusak tumbuh-tumbuhan dan hewan. Dampak lain yang akibat polusi udaranya adalah efek rumah kaca. Efek rumah kaca sebenarnya membuat kehidupan di bumi terus berlangsung dengan menjaga bumi tetap hangat (sekitar 30°C). Namun, jumlah gas yang berlebih akibat polusi udara mengganggu keseimbangan karena terlalu banyak energi


yang tertahan, yang menyebabkan suhu rata-rata bumi meningkat dan iklim di beberapa lokasi berubah (Ismiyati et al., 2014). Konsekuensi-konsekuensi yang tidak diinginkan ini efek rumah kaca ini disebut sebagai pemanasan global atau perubahan iklim global.

Hujan asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan polutan dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di udara yang bereaksi dengan oksigen membentuk sulfur dioksida dan nitrogen dioksida (Astra, 2010). Asam yang terbentuk biasanya terlarut dalam tetesan air yang jatuh ke dalam awan atau kabut. Tetesan sarat asam ini, seperti pada jus lemon, turun dari udara ke tanah bersama hujan atau salju. Hal ini dikenal sebagai hujan asam. Polutan penyebab hujan asam berasal dari knalpot mobil dan industri yang menggunakan bahan bakar minyak dan batu bara (Ismiyanti et al., 2014). Hutan yang terkena hujan asam akan mengalami kerusakan secara perlahan karena menyerap asam melalui daun, batang, dan akar (Astra, 2010). Bahkan struktur marmer akan memburuk akibat hujan asam.

 

Kesimpulan dan Saran

Polusi udara dan perubahan iklim merupakan permasalahan lingkungan yang saling berkaitan. Polusi udara secara signifikan berkontribusi terhadap perubahan iklim, menyebabkan perubahan cuaca jangka panjang dan emisi gas rumah kaca. Polusi udara juga mengganggu kesehatan makhluk hidup, merusak ekosistem, dan menyebabkan hujan asam. Kerusakan ekosistem, seperti kebakaran hutan, berdampak pada tumbuhan dan hewan.

Masalah polusi yang berkontribusi terhadap perubahan iklim membutuhkan perhatian yang serius dari manusia. Aktivitas manusia yang berdampak pada lingkungan harus segera ditanggulangi agar keberlangsungan kehidupan di bumi tetap terjaga.

 

Daftar Rujukan

Abidin, J., & Hasibuan, F. A. (2019). Pengaruh Dampak Pencemaran Udara terhadap Kesehatan untuk Menambah Pemahaman Masyarakat Awam tentang Bahaya dari Polusi Udara. Prosiding Snfur, 4(2), 1-7.

Ajis, H. (2023). Dampak Perubahan Iklim pada Polusi Udara Kota. Diunduh pada 18 Oktober   2023.                                                                 [Online]. https://www.mertani.co.id/post/dampak-perubahan-iklim-pada-polusi-udara-kota.

Astra, I. M. (2010). Energi dan Dampaknya terhadap Lingkungan. Jurnal Meteorologi dan Geofisika, 11(2), 131-139.

Brauers, H., & Oei, P. Y. (2020). The political economy of coal in Poland: Drivers and barriers for a shift away from fossil fuels. Energy Policy, 144, 111621.


Campbell-Lendrum, D., & Prüss-Ustün, A. (2019). Climate change, air pollution and noncommunicable diseases. Bulletin of the World Health Organization, 97(2), 160-161.

Chen, Y. T., Liu, C. L., Chen, C. J., Chen, M. H., Chen, C. Y., Tsao, P. N., ... & Chen, P. C.

(2021). Association Between Short-term Exposure to Air Pollution and Sudden Infant Death Syndrome. Chemosphere, 271, 129515.

Clayton, S., & Manning, C. (Eds.). (2018). Psychology and climate change: Human perceptions, impacts, and responses. Academic Press.

Ismiyati, I., Marlita, D., & Saidah, D. (2014). Pencemaran Udara Akibat Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor. Jurnal Manajemen Transportasi & Logistik (JMTransLog), 1(3), 241-248.

Jorquera, H., Montoya, L. D., & Rojas, N. Y. (2019). Urban air pollution. Urban Climates in Latin America, 137-165.

Karagulian, F., Belis, C. A., Dora, C. F. C., Prüss-Ustün, A. M., Bonjour, S., Adair-Rohani, H., & Amann, M. (2015). Contributions to cities' ambient particulate matter (PM): A systematic review of local source contributions at global level. Atmospheric environment, 120, 475-483.

Moran, H. K., Brooks, J. V., & Spoozak, L. (2020). Undergoing active treatment for gynecologic cancer during COVID-19: a qualitative study of the impact on healthcare and social support. Gynecologic oncology reports, 34, 100659.

Ratnani, R. D. (2008). Teknik pengendalian pencemaran udara yang diakibatkan oleh partikel. Majalah Ilmiah Momentum, 4(2), 27-32.

Sudaryanto, S., Prasetyawati, N. D., & Sinaga, E. (2022) Sosialisasi Dampak Polusi Udara terhadap Gangguan Kesehatan Kenyamanan dan Lingkungan. Midiwifery Science Session, 1(1), 8-17.

Komentar