KESEHATAN MENTAL DAN EMOSIONAL MAHASISWA: ANALISIS DAMPAK DAN UPAYA MENGATASINYA

                   KESEHATAN MENTAL DAN EMOSIONAL MAHASISWA:
ANALISIS DAMPAK DAN UPAYA MENGATASINYA 

Rosa Mutia Sari1, Dina Apriliani2, Dwi Muhti Hariski3, Fela Novita Sari4, Kuat Prayugi5, Lisa Nur Septiani6, Naufal  Febrian Hafizh7, Tamma Nesti Arsyifa 8, Sri Wahyuningsih9 

Universitas Jenderal Soedirman, personalia.anantaartha@gmail.com 

Abstrak 

Kesehatan mental dan emosional merupakan komponen penting bagi hidup seseorang. Kondisi mental dan emosional yang baik berperan bagi kesehatan tubuh dan kesejahteraan hidup secara menyeluruh, salah satunya yaitu pada kalangan mahasiswa. Berbagai fenomena maupun kejadian-kejadian yang dialami  mahasiswa terkait dengan masalah mental dan emosional menarik untuk diteliti karena sesuai dengan tujuan  penelitian ini yaitu guna mengkaji faktor-faktornya, dampak yang ditimbulkan, jenis-jenis gangguan  kesehatan mental dan emosional, serta upaya mengatasinya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif  studi pustaka yaitu data sekunder diperoleh melalui artikel jurnal dan bahan-bahan bacaan lain yang selaras  dengan topik penelitian ini. Lalu, teknik analisis datanya yaitu menggunakan model Miles dan Huberman,  dengan tahapan analisis data yaitu reduksi data, paparan data, penarikan kesimpulan, dan verifikasi. Hasil  penelitian menunjukkan dampak dari gangguan kesehatan mental dan emosional tidak hanya dirasakan  pada tingkat individu, tetapi juga dapat memengaruhi lingkungan sekitar, seperti penurunan prestasi  akademik, risiko perilaku berbahaya, dan penurunan kualitas hidup secara keseluruhan. Beberapa jenis  gangguan yang sering dialami mahasiswa termasuk depresi, stres, kecemasan, dan burnout, yang semuanya  memiliki konsekuensi negatif yang signifikan jika tidak ditangani secara tepat. 

Kata Kunci: kesehatan mental, emosional, gangguan, mahasiswa 

Abstract 

Mental and emotional health is an important component of a person's life. A good mental and emotional  condition plays a role in the overall physical health and well-being of life, one of which is among college  students. The various phenomena and events experienced by college students related to mental and  emotional problems are interesting to research because they are in accordance with the aims of this  research, namely to examine the factors, the impacts, the types of mental and emotional health disorders, and efforts to overcome them. This research uses a qualitative method of library study, i.e. secondary data  obtained through journal articles and other reading materials that are in line with the topic of this research.  Then, the data analysis technique is using the Miles and Huberman models, with the stages of analysis data  are reduction data, display data, conclude and verification. The results show the impact of mental and  emotional health disorders is not only perceived at the individual level, but can also affect the environment,  such as decrease academic achievement, risk of harmful behavior, and decrease overall quality of life.  Some types of disorders that college students often experience include depression, stress, anxiety, and  burnout, all of which have significant negative consequences if not treated properly. 

Keywords: mental health, emotional, disorder, college students 

Pendahuluan 

Kesehatan mental adalah suatu hal yang sangat penting bagi seseorang karena hal itu  berkontribusi pada kesehatan tubuh dan kesejahteraan hidupnya secara menyeluruh (Unicef, 2022). Menurut penelitian yang sudah dilakukan oleh Huang (2022) pada beberapa mahasiswa,  diperoleh data bahwa separuh mahasiswa menderita masalah kesehatan mental emosional.  Masalah kesehatan mental di era modernisasi seperti saat ini biasanya diakibatkan oleh berbagai  tekanan di dalam kehidupan. Mahasiswa adalah sebuah kelompok yang baru saja memasuki usia  dewasa, maka tidak heran jika mereka sering menghadapi tekanan dan keresahan dalam hal  pendidikan, keluarga, percintaan, pertemanan, dan lainnya (Huang et al, 2022). 

Menurut survei yang dilakukan terhadap remaja Tiongkok selama 30 tahun terakhir, data  menunjukkan bahwa remaja mengalami masalah kesehatan mental dan jumlahnya terus  meningkat dari hari ke hari. Laporan tersebut menyebutkan bahwa 11% dari remaja menderita  gangguan jiwa ringan hingga sedang dan 2-3% menderita gangguan jiwa berat (Huang et al, 2022).  Survei Zulfikar tahun 2021 menemukan 35% siswa di Sumut merasa stres akibat penumpukan  tugas dan tekanan lingkungan. Kesehatan mental remaja di Indonesia sangat tinggi (Aziz et al,  2021). Hal ini disebabkan karena remaja pada tahap ini emosinya masih belum stabil  dan kemampuan memecahkan masalah yang dimilikinya belum kuat (Rochimah, 2020). Prevalensi gangguan mental afektif seperti depresi dan kecemasan pada penduduk usia 15 tahun  ke atas di Indonesia meningkat dari 6,0 menjadi 9,8 per 1.000 penduduk (Antari & Widyawati,  2021). 

Kesehatan mental mahasiswa bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk faktor  genetika, pertemanan, keluarga, lingkungan sosial, gaya hidup, dan lain sebagainya (Rochimah,  2020). Seseorang yang menghadapi masalah hidup yang ekstrem berisiko tinggi mengalami  gangguan kesehatan mental. Pengalaman hidup yang ekstrem seperti kehilangan, stres berat, atau  trauma psikologis bisa menjadi pemicu utama masalah kesehatan mental. Mahasiswa tingkat empat  yang sedang menghadapi ujian akhir atau skripsi seringkali menghadapi tekanan besar. Skripsi  adalah tugas akhir yang harus diselesaikan mahasiswa sebagai syarat kelulusan akademik mereka.  Proses pembelajaran dalam penyusunan skripsi bersifat individu, menuntut mahasiswa untuk  menyelesaikan permasalahan secara mandiri. Bagi banyak mahasiswa, tugas skripsi ini cukup  berat dan sulit dalam prosesnya hingga terkadang menyebabkan kecemasan, keputusasaan, dan  ketidakmampuan untuk menyelesaikan tugas tersebut.  

Oleh karena itu, artikel ini akan membahas mengenai empat poin utama yaitu faktor-faktor  yang memengaruhi kesehatan mental dan emosional mahasiswa, dampak masalah kesehatan dan  emosional di kalangan mahasiswa, jenis-jenis gangguan mental dan emosional yang sering dialami oleh mahasiswa, dan upaya yang dapat dilakukan oleh mahasiswa untuk mengatasi masalah  kesehatan mental dan emosional.  

Metode 

Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan sumber data sekunder yang  diperoleh melalui studi pustaka artikel jurnal atau bahan-bahan bacaan lain yang berhubungan  dengan penelitian ini. Lalu, teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan  model Miles dan Huberman, dengan tahapan analisis data yaitu reduksi data, paparan data,  penarikan kesimpulan, dan verifikasi. Reduksi data dilakukan setelah semua data terkumpul dan  dipilah sesuai kebutuhan penelitian. Paparan data dilakukan dengan menganalisis semua data yang  telah dipilah. Lalu, penarikan kesimpulan diperoleh dari keseluruhan hasil analisis dan  menentukan simpulan yang sesuai dengan paparan data (Latifah, 2023). 

Hasil dan Pembahasan 

  1. Faktor-faktor yang Memengaruhi Kesehatan Mental dan Emosional Mahasiswa 

Kesehatan mental dan emosional yang dialami oleh mahasiswa dapat timbul karena kompleksitas faktor-faktor seperti tekanan akademik, perubahan gaya hidup, dan harapan  berlebih yang saling berhubungan (Vierdiana, 2024). Faktor-faktor ini dijelaskan secara  ringkas melalui beberapa poin, yaitu: 

a. Faktor Lingkungan Akademik: Menurut Pratiwi et al (dalam Vierdiana, 2024), penyebab  timbulnya masalah kesehatan mental di kalangan mahasiswa yaitu karena adanya tekanan  akademik, tuntutan tugas, dan persaingan yang ketat. Seperti yang kerap kali terjadi bahwa  mahasiswa sudah tidak asing dengan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen. Tak jarang  hal tersebut dapat menyebabkan gejala buruk bahkan hingga timbul rasa ingin mengakhiri  hidup karena merasa beban mental sangat berat. Contohnya seperti mahasiswa yang tengah  menghadapi ujian akhir atau skripsi. Menurut Ningrum (dalam Sari & Susmiatin, 2023),  kesulitan yang dialami oleh mahasiswa akhir tersebut kadang menimbulkan anxiety atau  kecemasan, rasa putus asa, dan memperlama kelulusan.  

b. Faktor Hubungan Sosial dan Interpersonal: Menurut Tinambunan et al (dalam Vierdiana,  2024), hubungan sosial yang sehat dan dukungan interpersonal berdampak positif bagi kesehatan mental dan emosional mahasiswa. Ketika suatu individu mampu membangun hubungan sosial yang sehat dan positif dengan lingkungan sekitar, maka akan berdampak  pada kesejahteraan mental dan emosionalnya. Sebaliknya, ketika individu lebih menutup diri dan gagal membangun hubungan sosial yang baik, maka dapat meningkatkan risiko  masalah kesehatan mental dan emosional.  

c. Faktor Perubahan Gaya Hidup Mahasiswa: Menurut Bulu et al (dalam Vierdiana, 2024), pola makan mahasiswa yang tidak teratur, jarang berolahraga, dan time management yang buruk dapat memberikan dampak negatif terhadap kesejahteraan mental serta  emosional mereka. Selain itu, menurut penelitian Risnawati et al (2024), hasil survei dari total 32 responden yaitu 24 mahasiswa (75%) mengalami kesulitan tidur dan 30 mahasiswa  (93.8%) mengalami penurunan minat dalam berolahraga dan melakukan hobi.

Dari ketiga faktor tersebut, dapat diketahui bahwasanya mahasiswa memang rentan  mengalami gangguan mental dan emosional. Selanjutnya, paparan mengenai dampak-dampak  yang ditimbulkan akan dijelaskan pada poin dibawah ini.


  1. Dampak Masalah Kesehatan Mental dan Emosional di Kalangan Mahasiswa

Kesehatan mental dan emosional tentu memiliki dampak yang besar terhadap  kehidupan mahasiswa. Dampak tersebut berupa dampak negatif yang dihasilkan dari masalah  kesehatan mental dan emosional mahasiswa itu sendiri. Kesehatan mental dan emosional  berpengaruh terhadap berbagai aspek yang krusial bagi perkembangan dan kesejahteraan  mahasiswa. Beberapa dampak tersebut di antaranya yaitu: 

  1. Merasa kebingungan, cemas, atau kesal tanpa alasan yang jelas. Hal tersebut berpengaruh  terhadap kesehatan fisik maupun psikis mahasiswa. Seseorang yang mengalami kecemasan  cenderung hilang nafsu makannya. Hilang nafsu makan dapat berpengaruh terhadap  kesehatan psikis karena tubuh dan pikiran saling terkait erat. Kemudian perasaan kesal  yang dimiliki seseorang juga berpengaruh terhadap hubungan sosial baik antarindividu  maupun kelompok. Emosi negatif cenderung memengaruhi cara kita berinteraksi dengan  orang lain. 

  2. Penurunan prestasi akademik. Masalah kesehatan mental dan emosional dapat  mengganggu kemampuan mahasiswa untuk berkonsentrasi dan fokus pada pelajaran.  Selain itu, kondisi mental dan emosional mengakibatkan hilangnya motivasi mahasiswa  untuk melakukan kegiatan akademik.

  3. Keinginan untuk melukai, baik diri sendiri maupun orang lain. Kesehatan mental yang  terganggu dapat berdampak serius pada perilaku seseorang. Mahasiswa yang mengalami  depresi berat sering merasa putus asa dan hilang kendali. Mereka melukai diri sendiri  sebagai cara untuk mengatasi rasa sakit emosional atau sebagai bentuk pelarian dari  penderitaan mental yang mereka alami. Selain itu, gangguan psikotik, bipolar, kondisi  seperti skizofrenia dapat menyebabkan delusi dan halusinasi yang mungkin mendorong  individu untuk bertindak dengan cara yang berbahaya terhadap diri mereka sendiri atau  orang lain.

  4. Risiko penyalahgunaan zat. Mahasiswa yang mengalami stres, depresi, atau kecemasan  mencari cara untuk mengurangi perasaan negatif tersebut. Alhasil mereka menggunakan  zat seperti alkohol atau obat-obatan terlarang yang dapat memberikan rasa lega sementara, meskipun efek jangka panjangnya berbahaya.

  5. Penurunan kualitas hidup. Masalah kesehatan mental dan emosional dapat mengganggu  kemampuan mahasiswa untuk menjalani aktivitas sehari-hari, seperti organisasi, kuliah,  dan kegiatan sosial, hal ini dapat menurunkan produktivitas dan mengurangi kepuasan  hidup. Selain itu, mahasiswa yang mengalami masalah kesehatan mental dan emosional  cenderung tidak memiliki teman atau hubungan keluarga yang kurang baik, hal ini dapat  mengakibatkan kesepian dan perasaan terasing, apalagi bagi mahasiswa rantau.  

Dampak kesehatan mental dan emosional di kalangan mahasiswa dapat signifikan dan  meluas. Beberapa dampak di atas sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan hidup  mahasiswa. Beberapa dampak tersebut berpotensi menyebabkan masalah serius seperti  kematian.


  1. Jenis-jenis Gangguan Kesehatan Mental dan Emosional yang Sering dialami Oleh  Mahasiswa

Banyak tantangan yang dihadapi mahasiswa seperti banyaknya tugas ataupun hal lain  yang dapat memengaruhi kesehatan mental dan emosional mahasiswa. Gangguan kesehatan  mental dan emosional memiliki beberapa jenis. Berikut jenis-jenis gangguan kesehatan mental  dan emosional yang sering dialami oleh mahasiswa: 

  1. Depresi

Depresi adalah suatu gangguan pada mood individu yang ditandai dengan adanya suatu  perasaan sedih, suram, putus asa, rasa duka, serta perubahan tingkat aktivitas seperti menjadi  lambat dan kacau (Dharma, 2019). Gejala umum yang muncul pada kasus depresi ini seperti  perubahan mood sehingga mudah merasa sedih, mudah marah atau tersinggung,  kehilangan minat pada aktivitas yang disukai, kurang termotivasi, sulit untuk berkonsentrasi,  dan terkadang memikirkan kematian atau bunuh diri (Nevid et al., 2018). Berdasarkan  penelitian Dharma (2019) pada jurnalnya menemukan bahwa 36,8% mahasiswa di suatu  universitas mengalami gangguan depresi.

  1. Stres

Stres adalah respons non-spesifik dari tubuh terhadap adanya tuntutan dalam kehidupan  sehari-hari (Seyle, 1976 dalam Musabiq & Karimah, 2018). Penyebab terjadinya stres pada  mahasiswa adalah biasanya beban pada akademis yang menurutnya berat, tuntutan pada  waktu, keuangan, dan lain sebagainya. Dampak yang dialami oleh mahasiswa akibat stres  seperti sakit kepala, tidak nafsu makan, hilangnya keinginan untuk bersosialisasi, mudah  sensitif, frustasi, gangguan tidur, hingga yang paling ekstrem adalah bunuh diri. Berdasarkan  penelitian Musabiq & Karimah (2018) dalam jurnalnya mengatakan bahwa dalam waktu satu  minggu, sebanyak 50% mahasiswa mengalami kejadian pemicu stres yang berasal dari tiga  jenis stressor seperti interpersonal, akademik, dan lingkungan. Terdapat 3,1% mahasiswa yang mengalami pemicu stres akademik.

  1. Kecemasan (Anxiety

Kecemasan adalah kondisi dimana suatu individu mengalami kekhawatiran  berlebih karena sesuatu hal yang buruk akan terjadi. Kecemasan merupakan suatu keadaan normal  untuk suatu individu terhadap peristiwa yang ada di kehidupan sehari-hari. Gejala yang  dirasakan saat cemas terjadi adalah gelisah, pusing, sulit bernafas, tegang, takut, dan khawatir. Kecemasan juga dialami oleh mahasiswa dan dapat mengakibatkan  dampak negatif untuk fisik maupun psikis mahasiswa. Kecemasan sering dialami oleh  mahasiswa akhir yang disebabkan oleh beberapa hal seperti cemas akan seminar proposal,  penelitian, cemas akan pengerjaan skripsi, dan cemas tentang karir kedepannya (Akhnaf et  al., 2022). 

  1. Burnout

Burnout merupakan suatu kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental yang  disebabkan oleh keterlibatan jangka panjang dalam situasi yang dimana penuh akan tuntutan.  Banyak mahasiswa yang mengalami burnout akibat dari banyaknya tugas, rutinitas  perkuliahan, maupun tuntutan di luar perkuliahan. Ciri-ciri burnout adalah kelelahan yang  ekstrem, sinisme terhadap tugas, dan turunnya kinerja suatu individu. Berdasarkan penelitian  Alimah et al., (2016) dalam jurnalnya mengatakan bahwa burnout banyak dialami oleh  mahasiswa jurusan keperawatan dengan tingkat sedang.


  1. Upaya yang Dapat Dilakukan oleh Mahasiswa untuk Mengatasi Masalah Kesehatan  Mental dan Emosional  

Kesehatan mental dan emosional sangat penting bagi mahasiswa. Maka dari itu  beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh mahasiswa untuk mengatasi masalah kesehatan  mental dan emosional antara lain: 

  1. Mengatur waktu dengan cerdas. Buat jadwal yang teratur untuk perkuliahan, belajar,  istirahat, dan rekreasi. Hindari adanya penumpukan tugas pada waktu yang sama dan  pastikan memberi waktu yang cukup untuk istirahat. 

  2. Utamakan kesehatan jasmani. Lakukan latihan jasmani secara teratur. Aktivitas fisik dapat  membantu mengurangi tekanan pikiran dan meningkatkan mood. Pastikan juga untuk  makan dengan nutrisi yang seimbang dan menjaga pola istirahat yang baik.

  3. Perbanyak interaksi dengan individu lain. Jangan ragu untuk mengungkapkan perasaan  atau tekanan yang Anda alami dengan teman, keluarga, atau seorang konselor. Terkadang,  berbagi pemikiran dapat membantu mengurangi beban pikiran.

  4. Manage self-expectations. Tetap berpegang pada realitas saat menetapkan tujuan dan  harapan terhadap diri sendiri. Hindari mengejar keunggulan yang tidak realistis dan  menghargai pencapaian kecil.

  5. Choose priorities and manage time. Identifikasi tugas yang paling penting dan prioritaskan  tugas tersebut. Mengelola waktu Anda dengan baik untuk menghindari tekanan akademis  yang berlebihan. Beristirahatlah dengan sempurna. Berikan diri Anda waktu istirahat yang  cukup di antara sesi belajar. Jangan lupakan untuk mengambil waktu istirahat singkat atau  liburan jika Anda merasa perlu.

  6. Pahami gejala-gejala stres dan depresi. Kenali gejala-gejala stres dan depresi, seperti  perubahan emosi, kehilangan minat pada kegiatan yang biasa dinikmati, dan gangguan  tidur. Jika Anda merasa memerlukan pertolongan, carilah bantuan ahli. Belajar strategi dalam mengatur stres. Cintai dan gunakan teknik pengelolaan stres seperti meditasi, relaksasi  otot, atau latihan pernapasan. Ini bisa membantu menenangkan pikiran dan mengurangi  tanda-tanda stres.

  7. Pertahankan keseimbangan sosial. Tetap terlibat dalam kegiatan sosial dan jalin hubungan dengan teman-teman. Pendukung  sosial bisa menjadi kunci untuk mengatasi tantangan akademis dan emosional.

  8. Hindari membandingkan diri Anda dengan siswa lain. Setiap individu memiliki perjalanan  dan rintangan yang unik. Tetaplah berpusat pada pertumbuhan pribadi Anda.

  9. Manfaatkan fasilitas layanan kesehatan di kampus. Jika kampus Anda memiliki layanan  kesehatan jiwa, manfaatkan fasilitas tersebut. Banyak perguruan tinggi menawarkan  layanan konseling atau bantuan kesehatan mental.

  10. Mencari keseimbangan antara pendidikan dan kehidupan individual. Penting untuk  menciptakan keseimbangan antara persyaratan akademis dan kehidupan pribadi. Berikan  diri Anda waktu untuk rileks dan menikmati kegiatan di luar lingkungan akademis. 


Kesimpulan dan Saran 

  1. Kesimpulan 

Kesehatan mental dan emosional mahasiswa merupakan aspek penting yang  memengaruhi kesejahteraan hidup, prestasi akademik, dan hubungan sosial mereka.  Berdasarkan analisis yang dilakukan, ditemukan bahwa tekanan akademik, hubungan sosial,  dan perubahan gaya hidup menjadi faktor utama yang memengaruhi kondisi mental dan  emosional mahasiswa. Dampak dari gangguan kesehatan mental dan emosional ini tidak hanya  dirasakan pada tingkat individu, tetapi juga dapat memengaruhi lingkungan sekitar, seperti  penurunan prestasi akademik, risiko perilaku berbahaya, dan penurunan kualitas hidup secara  keseluruhan. Beberapa jenis gangguan yang sering dialami mahasiswa termasuk depresi, stres,  kecemasan, dan burnout, yang semuanya memiliki konsekuensi negatif yang signifikan jika  tidak ditangani dengan tepat. Upaya penanggulangan masalah ini melibatkan pengelolaan waktu yang efektif, menjaga kesehatan jasmani, membangun hubungan sosial yang sehat, serta  memanfaatkan layanan kesehatan mental yang tersedia di kampus. 

  1. Saran 

Adapun beberapa saran yang penulis berikan untuk mengatasi masalah kesehatan mental  dan emosi mahasiswa, sebagai berikut: 

  1. Pengelolaan waktu yang lebih baik

Mahasiswa harus lebih bijak dalam mengatur waktu  mereka, dengan memberi prioritas pada tugas-tugas penting dan memberikan waktu yang  cukup untuk istirahat dan rekreasi. Ini akan membantu mengurangi tekanan akademik yang  sering menjadi sumber utama stres. 

  1. Meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental

Perguruan tinggi diharapkan dapat  mengadakan program edukasi dan kampanye untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa  mengenai pentingnya kesehatan mental. Mahasiswa perlu didorong untuk mengenali  gejala-gejala awal gangguan mental dan emosional agar dapat segera mencari bantuan. 

  1. Dukungan sosial dan interpersonal

Mahasiswa perlu didorong untuk aktif dalam kegiatan  sosial dan menjalin hubungan interpersonal yang positif. Dukungan dari teman, keluarga,  dan lingkungan sekitar sangat penting dalam menjaga kesejahteraan mental. 

  1. Penggunaan layanan kesehatan mental

Mahasiswa harus memanfaatkan fasilitas layanan  kesehatan mental yang tersedia di kampus, seperti konseling dan terapi. Perguruan tinggi  perlu memastikan bahwa layanan ini mudah diakses dan diterima oleh mahasiswa. 

  1. Peningkatan pola hidup sehat

Mahasiswa perlu diajarkan pentingnya menjaga pola hidup  sehat, termasuk olahraga rutin, pola makan seimbang, dan tidur yang cukup. Kesehatan  fisik yang baik sangat berkaitan dengan kesehatan mental yang optimal. 


Daftar Pustaka 

Akhnaf, A. F., Putri, R. P., Vaca, A., Hidayat, N. P., Az-Zahra, R. I., & Rusdi, A. (2022). Self  Awareness dan kecemasan pada mahasiswa tingkat akhir. Jurnal Muara Ilmu Sosial,  Humaniora, Dan Seni, 6(1), 107-118. 

Alimah, S., Swasti, K. G., & Ekowati, W. (2016). Gambaran burnout pada mahasiswa keperawatan  di purwokerto. Jurnal Keperawatan Soedirman, 11(2), 130-141. 

Antari, I., & Widyawati, A. (2021). Upaya Peningkatan Pemahaman Kesehatan Jiwa Melalui  Efforts To Improve Understanding of Mental Health Through Early Detection of  Mental Disorders. Jurnal Abdimas Madani, 4(1), 15–21. 

Aziz, Z. A., Ayu, D. A., Bancin, F. M., Syara, S. G., Manalu, W. B., S, R. A., Lia, S.  F., Tanjung, L. P., Boang manalu, A. S., Br Karo, S. indah K., Br Bangun, C. A.,  Limbong, F. W., & Siregar, N. F. (2021). Gambaran Kesehatan Mental Mahasiswa  di Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Dunia Kesmas, 10(1), 130–135.  https://doi.org/10.33024/jdk.v10i1.3256 

Dharma, A. S. (2019). Gambaran depresi pada mahasiswa universitas X di Jakarta. Provitae:  Jurnal Psikologi Pendidikan, 12(2), 61-80. 

Huang, Y., Li, S., Lin, B., Ma, S., Guo, J., & Wang, C. (2022). Early Detection of College  Students’ Psychological Problems Based on Decision Tree Model. Frontiers in  Psychology, 13, 4058. https://doi.org/10.3389/FPSYG.2022.946998/BIBTEX 

Latifah, D. N. (2023). Analisis gaya belajar siswa untuk pembelajaran berdiferensiasi di Sekolah  Dasar. LEARNING: Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran, 3(1), 68-75. Musabiq, S., & Karimah, I. (2018). Gambaran stress dan dampaknya pada mahasiswa. Insight:  Jurnal Ilmiah Psikologi, 20(2), 75-83. 

Nevid, J. S., Rathus, S. A., & Greene, B. (2018). Abnormal psychology in a changing world (10th  ed.). NY: Pearson.  

Risnawati, B. S., Nasichah, N., Prayogo, M. F., & Al Izzami, Z. (2024). Faktor-faktor yang  Mempengaruhi Kesehatan Mental Mahasiswa Bimbingan dan Penyuluhan Islam UIN  Syarif Hidayatullah Jakarta. Jurnal Ilmiah Dan Karya Mahasiswa, 2(1), 179-186. 

Rochimah, F. A. (2020). DAMPAK KULIAH DARING TERHADAP KESEHATAN  MENTAL MAHASISWA DITINJAU DARI ASPEK PSIKOLOGI. Program Studi  Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lambung Mangkurat. 

Sari, M. K., & Susmiatin, E. A. (2023). Deteksi Dini Kesehatan Mental Emosional pada  Mahasiswa. Jurnal Ilmiah STIKES Yarsi Mataram, 13(1), 10-17. 

Unicef. (2022). Kesehatan Mental dan Kesejahteraan Hidup | UNICEF Indonesia. 2022.  https://www.unicef.org/indonesia/id/kesehatanmental?gclid=CjwKCAiAp7GcBhA0EiwA 9U0mtrhlgaqb0pTkRlCUfhPsUPMynoKv3y4zEg05MefPkjzQPiHEvOJGWBoC19EQAvD _BwE

Vierdiana, D. (2024). ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI  KESEHATAN MENTAL DI KALANGAN MAHASISWA PERGURUAN TINGGI.  Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP), 7(1), 1553-1558.


Komentar