DAMPAK KEBIJAKAN PENDIDIKAN BAGI MAHASISWA: STUDI KASUS PROGRAM MERDEKA BELAJAR KAMPUS MERDEKA (MBKM)

DAMPAK KEBIJAKAN PENDIDIKAN BAGI MAHASISWA:

STUDI KASUS PROGRAM MERDEKA BELAJAR KAMPUS MERDEKA (MBKM)

Vidya Rahmawati1, Titi Kusumawati2, Nawal Adliyaulami3, Fajar Agung Prasetyo4, Melyana Dwi Novinta5, Ade Ruben Febrian6, Retno Dwi Purwanti7, Nur Yasmin Nadillah8, Annisa Ayu Wulandari9, Ahmad Mufaiz10, Pandu Kusuma Aji11

Universitas Jenderal Soedirman, (adveksma.himabisi@gmail.com)

Abstrak

    Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) merupakan pembaharuan kebijakan pendidikan tinggi yang bertujuan untuk mengatasi kompleksnya kebutuhan dan tantangan pada era globalisasi yang semakin modern. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi adalah dasar hukum kebijakan MBKM. Oleh karena itu, Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020 memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menghabiskan tiga semester belajar di luar pendidikan. Melalui program ini, mahasiswa memiliki banyak kesempatan untuk memperluas dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka di dunia nyata. Dalam proses implementasi program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) ini mendapatkan banyak pro dan kontra, serta mendapatkan banyak dampak yang nyata bagi mahasiswa yang menjalankan program MBKM tersebut.

Kata kunci

Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), Kebijakan Pendidikan, Dampak, Mahasiswa.

Abstract

The Merdeka Learning Campus Merdeka (MBKM) program is a renewal of higher education policy, which aims to overcome the complex needs and challenges in the increasingly modern era of globalization. Minister of Education and Culture Regulation Number 3 of 2020 concerning National Higher Education Standards is the legal basis for the MBKM policy. Therefore, Permendikbud Number 3 of 2020 provides students with the opportunity to spend three semesters studying outside of education. Through this program, students have many opportunities to expand and improve their knowledge and skills in the real world. In the process of implementing the Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) program, it has many pros and cons, and has many real impacts on students who run the MBKM program.

Keywords

Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), Education Policy, Impact, Students.

 Pendahuluan

Sistem pendidikan di Indonesia mengalami berbagai transformasi untuk menyesuaikan perkembangan di era globalisasi dan kemajuan teknologi yang semakin pesat. Salah satu langkah strategis yang diambil Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) adalah melalui kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Nadiem Anwar Makarim pada bulan Februari 2020 mulai memberlakukan sesuai dengan Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Salah satu kunci keberhasilan dari implementasi kurikulum MBKM di perguruan tinggi dengan mengupayakan proses pembelajaran yang lebih otonom dan flexibel sehingga dapat tercipta lingkungan belajar yang inovatif, realistis, variatif, dan bebas bagi mahasiswa (Baharuddin, 2021). Melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) diharapkan dapat meningkatkan kualitas lulusan dan kompetensi pembelajaran lulusan, baik soft skills maupun hard skills, dengan mempersiapkan lulusan untuk masa depan yang unggul dan sesuai dengan kebutuhan zaman.

Proses pembelajaran di perguruan tinggi Indonesia dianggap belum sepenuhnya mampu menghasilkan lulusan yang cepat tanggap terhadap perubahan dunia kerja nyata setelah pandemi COVID-19 dan mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi dan komunikasi. Sehingga Kemendikbudristek menetapkan kebijakan kurikulum MBKM. Menurut Panjaitan (2022), kebijakan kurikulum MBKM ini diyakini bahwa  pembelajaran dapat dilakukan di mana saja, yang berarti pembelajaran dapat dilakukan di perpustakaan, ruang laboratorium, desa, tempat kerja, tempat pengabdian, pusat penelitian, dan sosial masyarakat.

Melalui MBKM, mahasiswa memiliki banyak kesempatan untuk menempuh pembelajaran di luar program studi atau di luar perguruan tinggi, melalui 8 kegiatan MBKM, yaitu: (a) melaksanakan proyek pengabdian kepada masyarakat di desa; (b) Mengajar dan membantu di satuan pendidikan; (c) melakukan praktik kerja atau magang di industri atau tempat kerja yang dituju; (d) melakukan penelitian; (e) mengikuti pertukaran mahasiswa; (f) melakukan kegiatan kewirausahaan; (g) membuat studi atau proyek independen;  (h) mengikuti program kemanusiaan (Permendikbud, 2020).

Dengan adanya kebijakan MBKM DIKTI ini diharapkan dapat memperluas kesempatan bagi mahasiswa untuk melaksanakan kegiatan magang dan studi independen. Program ini juga dapat menyetarakan kegiatan menjadi 20 sks untuk kegiatan yang memenuhi syarat dan ketentuan jam kegiatan, yang sebelumnya hanya disetarakan 12 sks. Program MBKM DIKTI menyediakan lebih banyak kesempatan magang dan studi independen bagi mahasiswa sehingga tidak hanya pada perusahaan yang saat ini menjadi mitra program studi.

Kebijakan kurikulum MBKM yang baru ditetapkan menimbulkan pro dan kontra dari berbagai kalangan, termasuk pendidik, politisi, siswa, dan orang tua mereka. Ada yang mengkritik dan memperdebatkan kebijakan kurikulum tersebut, sementara yang lain mendukung dan menyambut baik penetapan kebijakan tersebut (Purwanti, 2021; Rahman, 2021).


Metode

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bertujuan untuk memahami dan menganalisis suatu fenomena atau peristiwa secara deskriptif dengan tujuan untuk mengeksplorasi dampak kebijakan pendidikan, khususnya terkait dengan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) bagi mahasiswa. Menggunakan metode kualitatif karena memudahkan peneliti untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang pengalaman, pandangan, dan persepsi mahasiswa serta pihak-pihak terkait lainnya mengenai dampak kebijakan tersebut.

Metode yang digunakan dalam artikel ini juga menggunakan metode studi riset kepustakaan (Library Research), yang kemudian dilakukan analisis bacaan dengan menggunakan metode analisis isi (Contect Analyisis). Dalam proses pengumpulan data dilakukan langkah deskriptif analitik dari berbagai sumber seperti artikel, jurnal, dan buku-buku yang sesuai dengan isi pembahasan pada artikel ini.


Hasil Pembahasan

Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) merupakan pembaharuan kebijakan pendidikan tinggi. Secara umum, kebijakan kampus merdeka bertujuan untuk mengatasi kompleksnya kebutuhan dan tantangan pada era globalisasi yang semakin modern. Menurut Suryadi (2020), kebijakan program MBKM ini merupakan bentuk aktual pada kebijakan pendidikan tinggi yang efektif dan bertujuan untuk mengoptimalkan eksistensi institusi pendidikan tinggi, sehingga dapat menyelesaikan kesenjangan dalam pendidikan tinggi, terutama dalam hal kualitas dan pemerataan.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi adalah dasar hukum kebijakan MBKM. Oleh karena itu, Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020 memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menghabiskan tiga semester belajar di luar pendidikan. Melalui program ini, mahasiswa memiliki banyak kesempatan untuk memperluas dan meningkatkan pengetahuan serta keterampilan mereka di dunia nyata sesuai dengan keinginan, tujuan, dan kemampuannya. Lembaga pendidikan harus memiliki kemampuan untuk berkolaborasi dan memiliki daya inovasi untuk maju dan berkembang (Syahrir, 2020).

Banyaknya tantangan dan tuntutan yang dihadapi pada era globalisasi ini tentu saja diperlukan tindakan dan upaya yang strategis untuk mencapai pemerataan yang lebih cepat dengan meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi. Oleh karena itu, Nadiem Makarim meluncurkan Kurikulum Merdeka (MBKM) di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Mengenai keputusan Nomor 56/M/2022 tentang pedoman penerapan kurikulum dalam rangka pemulihan pembelajaran ini mencakup berbagai program, salah satunya adalah program pertumbuhan.

Dalam kebijakan kampus merdeka terdapat 4 kebijakan pendidikan, yaitu kebijakan hak belajar 3 semester di luar program studi dan perubahan sks, proses dalam re-akreditasi perguruan tinggi, kebijakan mengenai otonomi pembukaan program studi baru, dan perubahan status perguruan tinggi negeri badan hukum. Kampus merdeka memiliki beberapa program yang diluncurkan, yakni Indonesian International Student Mobility (IISMA), Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM), Studi Independent Bersertifikat, Magang Bersertifikat, Proyek Kemanusiaan, Riset atau Penelitian, Membangun Desa (KKN Tematik), Program Wirausaha, dan Program Kampus Mengajar. Dalam program-program tersebut sudah terdapat beberapa program yang dijalankan dan diikuti oleh mahasiswa, salah satunya Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).

Seiring berjalannya program MBKM akan diikuti oleh sikap pro dan kontra dari beberapa kalangan, mulai dari dosen, mahasiswa, dan kalangan akademisi yang lain. Pihak dosen yang pro dengan kebijakan ini mengatakan bahwa program MBKM merupakan salah satu tiang penguat baru yang membantu kemajuan pendidikan. Program MBKM juga dapat membantu mahasiswa menerapkan teori dan pengetahuan yang mereka pelajari di perguruan tinggi ke dunia kerja. Selain itu, beberapa mahasiswa juga memiliki pendapat pro mengenai program MBKM karena program ini dapat membantu menunjang dan meningkatkan kemampuan mahasiswa yang mengikuti program MBKM, membantu mahasiswa mengenal dunia kerja sehingga mahasiswa lebih siap dan lebih memiliki sikap adaptif setelah lulus dari perguruan tinggi, selain itu program MBKM juga dapat membantu mahasiswa memiliki banyak pengalaman dan relasi dalam dunia pekerjaan sehingga mudah untuk mendapatkan connecting dengan dunia kerja setelah lulus dari perguruan tinggi.

Sebagian kalangan dosen juga menyatakan kontra pada program MBKM, mereka berpendapat bahwa program tersebut hanya berfokus pada siswa dan mengabaikan dosen yang juga merupakan bagian dari pendidikan. Selain itu, program ini dianggap tidak memiliki payung hukum yang kuat karena peraturan dan kebijakannya masih setingkat peraturan menteri sehingga mengakibatkan kurangnya sustainabilitas transformasi kampus. Berbagai pendapat pro dan kontra dalam menanggapi suatu kebijakan memang selalu ada untuk menghiasi dan menjadi bahan evaluasi atau perbaikan khususnya dalam program MBKM, berbagai pendapat dan saran yang masuk dapat membantu memperbaiki program agar semakin lebih baik kedepannya.

Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), membawa dampak positif bagi mahasiswa, diantaranya adalah:

1.      Mengembangkan keterampilan praktis. Melalui program MBKM mahasiswa dapat mengembangkan keterampilan praktis yang relevan dan pengalaman  kerja nyata. Pengalaman ini dapat membantu mahasiswa agar lebih siap untuk terjun langsung di dunia kerja. Program MBKM akan melibatkan kerjasama antar tim dan menjaga komunikasi untuk menghindari konflik, hal ini dapat mengembangkan soft skills mahasiswa untuk meningkatkan jiwa kepemimpinan dan keterampilan, serta dapat beradaptasi dengan baik.

2.      Fleksibilitas belajar. Mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengambil mata kuliah di luar program studi utama mereka sehingga mereka dapat memperluas wawasan dan keterampilan seperti kewirausahaan, seni, dan teknologi yang mungkin sebelumya tidak ada dalam program studi utama mereka.

3.      Mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk mengambil maksimal 3 semester pembelajaran di luar program studi mereka, hal ini dapat mendorong mahasiswa untuk mengeksplorasi dan mendapatkan wawasan baru pada bidang bidang yang mungkin tidak terkait langsung dengan jurusan utama mereka.

4.      Dengan mengikuti program MBKM, mahasiswa dapat memperluas pengetahuan dan keterampilan melalui mata kuliah tambahan, mahasiswa menjadi lebih siap menghadapi tantangan di dunia kerja yang semakin kompleks dan beragam.

5.      Membangun jaringan profesional. Melalui program MBKM, mahasiswa berkesempatan untuk berinteraksi secara langsung dengan orang-orang profesional di industri yang diambil. Mahasiswa juga akan mendapatkan koneksi yang dapat membuka pintu untuk berkolaborasi di masa depan, serta mendapatkan rekomendasi yang dapat membantu mahasiswa dalam mencari pekerjaan.

6.      Waktu tunggu kerja yang lebih singkat. Berdasarkan riset, mahasiswa yang mengikuti program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) membutuhkan waktu sekitar 7 bulan untuk mendapatkan pekerjaan pertama setelah lulus, sedangkan rata rata waktu tunggu bagi mahasiswa yang tidak mengikuti program MBKM membutuhkan waktu mencapai 10 bulan untuk mendapatkan pekerjaan. Hal ini menunjukan bahwa keikutsertaan mahasiswa dalam program MBKM juga berpengaruh dan dapat memberikan keuntungan yang signifikan dalam hal persiapan memasuki dunia kerja.

Selain dampak positif dari kebijakan pendidikan program MBKM, terdapat tantangan dan dampak negatif yang muncul, diantaranya adalah:

1.      Sulit dalam menyeimbangkan kegiatan. Mahasiswa yang mengikuti program MBKM tidak semuanya dapat membagi waktu antara kegiatan lapangan dengan tugas akademik.

2.      Kesiapan kampus dan lembaga. Banyak kampus di Indonesia yang masih menghadapi terkait infrastruktur yang kurang memadai sehingga sulit untuk mendukung pelaksanaan MBKM. Ketidaksiapan ini mencakup pada sistem informasi yang belum terintegrasi yang akan menyulitkan pengelolaan konversi kredit dari berbagai aktivitas MBKM.

3.      Perbedaan akses dan kesempatan. Mahasiswa yang berasal dari universitas terpencil seringkali mengalami kendala dalam program MBKM karena tidak adanya fasilitas pendidikan yang memadai, seperti perpustakaan, dan akses internet sehingga dapat menghambat mahasiswa untuk mengikuti pendidikan yang lebih kreatif dan praktis. Selain itu, kampus dengan sumber daya yang terbatas kurang memiliki hubungan yang kuat dengan bisnis atau lembaga lain yang dapat menawarkan proyek kolaboratif atau magang.

Oleh karena itu, untuk menerapkan kebijakan MBKM, dibutuhkan kerjasama dan kolaborasi dengan mitra dan pihak lain yang berkaitan dengan bidang keilmuannya untuk mendukung tujuan pembelajaran. Kunci keberhasilan implementasi kebijakan MBKM di sebuah perguruan tinggi adalah dengan adanya keberanian untuk mengubah pola pikir dari pendekatan kurikulum berbasis konten yang kaku menjadi pendekatan kurikulum berbasis capaian pembelajaran yang fleksibel dan adaptif.

Kesimpulan dan Saran

Banyaknya tantangan dan tuntutan yang dihadapi pada era globalisasi ini tentu saja diperlukan tindakan dan upaya yang strategis untuk mencapai pemerataan yang lebih cepat dengan meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi. Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) merupakan pembaharuan kebijakan pendidikan tinggi yang bertujuan untuk mengatasi kompleksnya kebutuhan dan tantangan pada era globalisasi yang semakin modern, serta mengoptimalkan eksistensi institusi pendidikan tinggi sehingga dapat menyelesaikan kesenjangan dalam pendidikan tinggi, terutama dalam hal kualitas dan pemerataan. Melalui program ini, mahasiswa memiliki banyak kesempatan untuk memperluas dan meningkatkan pengetahuan serta keterampilan mereka di dunia nyata sesuai dengan keinginan, tujuan, dan kemampuannya. Dalam kebijakan kampus merdeka, terdapat 4 kebijakan pendidikan, yaitu kebijakan hak belajar 3 semester di luar program studi dan perubahan sks, proses dalam re-akreditasi perguruan tinggi, kebijakan mengenai otonomi pembukaan program studi baru, dan perubahan status perguruan tinggi negeri badan hukum.

Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) membawa dampak positif bagi mahasiswa, seperti mengembangkan keterampilan praktik, fleksibilitas belajar, mengambil pembelajaran di luar program studi, memperluas pengetahuan dan keterampilan, membangun jaringan profesional dan waktu tunggu kerja yang lebih singkat. Selain memberikan dampak yang positif, kebijakan pendidikan program MBKM ini memunculkan tantangan dan dampak negatif, seperti sulit dalam menyeimbangi kegiatan, perbedaan akses dan kesempatan, serta banyak kampus di Indonesia yang masih menghadapi terkait infrastruktur yang kurang memadai sehingga sulit untuk mendukung pelaksanaan MBKM. Oleh karena itu, untuk menerapkan kebijakan MBKM, dibutuhkan kerjasama dan kolaborasi dengan mitra dan pihak lain yang berkaitan dengan bidang keilmuannya untuk mendukung tujuan pembelajaran.


Daftar Pustaka 

Arisandi, D., Mutiara, M. W., & Mawardi, V. C. (2022, April). DAMPAK KEGIATAN MERDEKA BELAJAR KAMPUS MERDEKA (MBKM) MAGANG DAN STUDI INDEPENDEN MAHASISWA. Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni, 6(1), 175. https://doi.org/10.24912/ jmishumsen. v6i1. 16163

Habibah, A. F. (2023, December 7). Kemendikbudristek: MBKM berdampak positif bagi dunia kerja mahasiswa. ANTARA News. Retrieved October 12, 2024, from https://www.antaranews.com/berita/3861189/kemendikbudristek-mbkm-berdampak-positif-bagi-dunia-kerja-mahasiswa

Mubarok, E. (2022, February 7). PRO KONTRA MAGANG KAMPUS MERDEKA. Retorika.id. Retrieved October 12, 2024, from https://www.retorika.id/mild-report_2022-02-07_pro-kontra-magang-kampus-merdeka-.html

Muhammad, G., Rofiani, R., & Zaqiah, Q. Y. (2023, Mei 17). KEBIJAKAN PENDIDIKAN MBKM DAN EVALUASI IMPLEMENTASI MBKM. Jurnal Penelitian Pendidikan Sosial Humaniora, 8(1), 121-124. https://doi.org/10.32696/jp2sh.v8i1.2094

Pengelola web kemendikbud. (2023, December 13). Kebijakan MBKM Membawa Dampak Positif, Kampus dan Industri Berlomba lomba Jalankan MBKM Mandiri. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan » Republik Indonesia. Retrieved October 12, 2024, from https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2023/12/kebijakan-mbkm-membawa-dampak-positif-kampus-dan-industri-berlombalomba-jalankan-mbkm-mandiri

Suwanti, V., Ferdiani, R. D., & Harianto, W. (2022, Mei 3). ANALISIS DAMPAK IMPLEMENTASI PROGRAM MBKM KAMPUS MENGAJAR PADA PERSEPSI MAHASISWA. Jurnal PAJAR (Pendidikan dan Pengajaran), 6(3), 814-815. http://dx.doi.drg/10.33578/pjr.v6i3.8773

Komentar